Minggu, 12 April 2015



METODE THORIQOH MANZILAH TEKNIK PEMBELAJARAN
KITAB KUNING SISTEMATIS, APLIKATIF DAN EVISIEN

I. Sekilas Tentang Metode Thoriqoh
                Thoriqoh secara bahasa berarti jalan kecil. Bisa diartikan cara atau metode, apabila ditambah Ta’ Marbuthoh – menurut ahli bahasa - .              
                Secara istilah adalah cara yang ditempuh untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
                Sedangkan Almanzilah berarti kedudukan atau pangkat. Yang dimaksud di sini adalah kedudukan huruf atau kata atau kalimat dalam bahasa arab. Kedua metode ini ditemukan oleh almukarrom Drs. KH. Muhammad Muhsin bin Amir bin Ilyas pada tahun 2007. Alm. KH. Moh. Amir Ilyas yang dikenal dengan Sang Mukasyafah atau Waliyullah. Almarhum mantan pengasuh Pon. Pes. Annuqayah (mulai 1959-1996). Beliau wafat pada tahun 1996 di rumah kediamannya,  Guluk-Guluk Sumenep Madura dalam usia 71 tahun.
Istilah kitab kuning sering di konotasikan oleh para pelajar atau santri Madrasah atau Pondok Pesantren kepada sebuah kitab bertuliskan arab tak berharkat / tak berbaris (pegon:jawa), karya para ulama tempoe doeloe yang kebanyakan di cetak di atas kertas berwarna kuning untuk produk percetakan tertentu, baik di dalam maupun di luar negeri, seperti percetakan yang berasal dari Indonesia, Lebanon, Bairut dan lain-lain.
Kitab kuning dikenal pula dengan sebutan Kitab Turots/kitab salaf dalam bahasa arab atau kitab gundul (tidak berharkat), akhir-akhir ini kurang peminatnya, hanya terbatas di kalangan putra-putri muslim yang ingin belajar tentang Syariah Islamiyah/ajaran-ajaran Islam secara mendalam, karena belajar membaca dan memahami kandungan kitab kuning itu tidak mudah dan membutuhkan waktu bertahun-tahun, karena sangat erat kaitannya dengan tata bahasa arab yang dikenal dengan nama nahwu dan shorrof. Nahwu dan shorrof yang biasa digunakan oleh guru di Madrasah atau Pondok Pesantren adalah Alfiyah ibnu Malik dan Al Amtsilatuttashrifiyah oleh KH. Ma'shum, Jombang dan kitab Al Maqshud. Kitab ini terdiri dari nadzoman (syi'ir). Dari kitab inilah, anak didik disuguhi keterangan-keterangan yang detil tentang bentuk dan kedudukan kata dan kalimat arab yang terkandung dalam kitab-kitab kuning tersebut yang pada akhirnya mereka bisa membaca dan memahaminya dengan baik. Para pelajar/santri saat ini, baik di lembaga pendidikan umum atau agama, seperti Pondok Pesantren dan Madrasah sering mengeluh sulit belajar membaca apalagi memahami kitab-kitab kuning tersebut, yang menyebabkan mereka kurang bahkan tidak berminat mempelajarinya hingga sempurna. Beberapa faktor yang menyebabkan rendahnya para pelajar/santri belajar kitab kuning, di antaranya adalah kemampuan tata bahasa arab mereka lemah, bahkan kosong sama sekali, karena memang tidak pernah belajar dasar-dasar tata bahasa arab sama sekali. Di samping itu, para guru/tutornya masih menggunakan metode pembelajaran yang lama, seperti bentuk pengajian (wetonan: jawa). Cara seperti ini akhir-akhir ini kurang bayak di minati, karena membutuhkan waktu lama. Untuk memudahkan para pelajar/santri memahami kitab kuning tersebut, banyak di kalangan intelektuaL dibidang ini membuat inovasi atau terobosan-terobosan baru tentang metode membaca dan memahami secara cepat dan sistematis yang umumnya bersifat praktikal, seperti metode Al ‘Ankabut, metode 6 jam bisa membaca, Amtsilati, Al Manhaji termasuk juga metode Thoriqoh atau dikenal dengan sebutan MKKT. Dengan metode Thoriqoh atau disebut juga Manzilati ini, Insya Allah dalam waktu 6 (enam) bulan atau 4 jam x 4 hari akan bisa membaca, memahami kitab kuning dengan baik dan hafal kaidah-kaidah nahwu dan shorrof di luar kepala hanya dengan takror dan takror (mengulang-ulang)
Buku "Thoriqoh" ini diterbitkan pada tahun 2007 oleh 6 tim penyusun yang diperakarsai oleh Ketua pengurus Yayasan Al Almir di Kabupaten Sumenep, mengutamakan praktek langsung kepada kitab kuning, dalam hal ini, kitab yang digunakan sebagai bahan praktek adalah kitab Fathul Qorieb. Metode Thoriqoh mengkaji dari sisi i'rob nahwu dan sighoh/bentuk kata dan kalimat shorfiyah yang tertera dalam kitab Fathul Qorieb tersebut  
Metode Thoriqoh tidak terlalu banyak membahas teori tata bahasa yang diringi dengan pemahaman kandungannya. Untuk itu, siswa/peserta yang bisa belajar metode ini adalah siswa yang telah memiliki kemampuan dasar nahwu dan shorrof. Artinya, minimal mereka telah mengenal sekilas tentang istilah-istilah yang ada dalam nahwu dan shorrof, walaupun belum mendalam. Kalau dalam tingkat pendidikan formal adalah siswa Tsanawiyah kelas II ke atas atau Madrasah Diniyah. Karena metode Thoriqoh ini berbeda dengan metode-metode lainnya, maka bagi lembaga pendidikan yang berminat menggunakan metode ini dalam pembelajaran nahwu dan shorrof-nya, harus mendatangkan tenaga ahlinya sebagai tutor untuk memberikan diklat kader guru pembelajaran cepat Nahwu dan Shorrof (2-3 hari) saja yang memberikan pelatihan terkait cara mengajarkannya kepada anak didik.  Dan Insya Allah bagi guru / tutor yang telah mengikuti diklatnya, 2 - 3 hari saja akan mampu dan bisa mengajar nahwu dan shorrof dengan metode Thoriqoh ini dengan baik. Dan tidak setiap guru / tutor dituntut hafal kaidah-kaidah Nahwu dan shorrof tersebut. Durasi waktu belajar metode Thoriqoh ini kepada anak didik membutuhkan minimal 4 (empat) jam setiap harinya, dengan asumsi 45 menit per-jam yang dilakukan secara intensif berbentuk formal. Insya Allah bila durasi waktu ini dapat dilakukan dengan intensif dan konsisten dengan menggunakan buku pedoman yang ada, para peserta/ anak didik akan cepat bisa membaca, memahami dan hafal kaidah-kaidah nahwu dan shorrof, seperti Alfiyah, "Imrithy, Maqshud , Nadzmu Ma'anil Huruf, AL is'af, Fathul Khobiril Latif dan lain-lain yang menjadi referensi metode ini tanpa dihafalkan, hanya di takror (diulang). Hal ini telah terbukti beberapa kali, baik yang dilaksanakan oleh lembaga pendidikan Madrasah Aliyah maupun Pendidikan Madrasah diniyah Al Amir yang kami asuh.
Materi ajar metode ini ada tiga referensi, yaitu Thoriqoh Nahwiyah, Qoidah Nahwiyah, Manzilah dan Fathul Qorieb serta Nadzmu Ma’anil Huruf.  Peserta diklat / anak didik hanya diperbolehkan memegang buku Kaidah Thoriqoh saja selama pembelajaran berlangsung sebagai referensi dasar dalam menyebutkan alasan atau kaidah terhadap kedudukan atau I’rob huruf atau kalimat yang ada dalam kitab Fathul Qorieb.
Dalam kitab Kaidah Thoriqoh yang telah dirancang secara sistematis dan disesuaikan dengan kitab Thoriqoh Nahwiyah, maka dalam penggunaannya, seorang siswa pertama-pertama harus membuka kitab Fathul Qorieb. Kemudian menentukan kekdudukan atau I’rob kata perkata atau kalimat sambil menyebutkan alasan dan kaidahnya yang tertulis dalam Kaidah Thoriqoh. Nomor dibagian kiri dalam Kitab Kaidah Thoriqoh adalah petunjuk bahwa kaidah kedudukan atau I’rob suatu huruf atau kalimat yang tertera dalam Thoriqoh Nahwiyah. Misalnya ada suatu kata atau kalimat berkedudukan sebagai Fa’il, maka kaidahnya terdapat di halaman 7 nomor 3 (dilihat dan dibaca bersama-sama), begitu seterusnya.
                Metode Thoriqoh atau dikenal dengan MKKT lebih fokus pada praktek membaca dan memahami kitab kuning (kitab salaf). Sifat atau motto dari metode ini adalah Sistematis, Aplikatif dan Evisien ( SAE ). Disebut Sistematis, karena metode ini disusun dengan cara mengkaji rahasia kalimat-kalimat bahasa arab bahkan huruf-hurufnya berdasarkan kaidah-kaidah nahwiyah dan shorfiyah. Disebut Aplikatif, karena fakus pada praktik ketimbang teori. Disebut Evisien, karena waktu pembelajrannya tidak terlalu lama, mereka bisa membaca, memahami dan hafal kaidah-kaidah Nahwu dan shorrof dengan baik.
                Seorang siswa atau peserta diklat bisa dikatakan sukses belajar kitab kuning / kitab kuning, apabila telah mampu menjawab 3 (tiga) macam   pertanyaa: 
1. Apa ?                       
2. Mengapa ?
3. Bagaimana Kaidahnya ?
Tiga pertanyaan ini adalah ciri khas pembelajaran metode Thoriqoh.
                Yang dimaksud dengan APA ialah :
1. Apa maknanya kalimat ….. ?
2. Apa kedudukan dan i’robya kalimat atau huruf ?
                Yang dimaksud dengan MENGAPA ialah
1.     Mengapa dibaca begitu ? Mempertanyakan alasannya, bukan kaidahnya.
                Yang dimaksud dengan BAGAIMANA ialah :
1.  Bagaimana Kaidahnya ?
2.  Bagaimana maksud ibaratnya ?
                Sedangkan ciri khas yang lain dari metode Thoriqoh, setiap siswa di dalam mengi’rob suatu kalimat, harus menggunakan : HURUF AKHIRNYA …. , ADALAH dan KAIDAHNYA.
                Seorang siswa atau tutor menggunakan kata : HURUF AKHIRNYA, apabila kalimat yang di  i’rob adalah mu’rob. Bila mabni, umumnya menggunakan ADALAH. Sedangkan kata KAIDAHNYA, diucapkan oleh tutor atau siswa ketika akan membacakan kaidah nahwiyah atau shorfiyah dengan menyebutkan sumber pengambilannya.
                Materi Toriqoh terdiri dari 4 macam, yaitu :
1. Thoriqh Nahwiyah
2. Thoriqoh Shorfiyah
3. Kaidah Thoriqoh (berupa kumpulan kaidah-kaidah Nahwu dan shorrof dari
     berbagai referensi)
4. Fathul Qoriebil Mujieb (Referensi Pokok)
Dan sebagai pendampingnya adalah kitab MANZILAH yang pembahasannya lebih rinci ketimbang Thoriqoh Nahwiyah.
                Seorang tutor tidak harus menguasai/hafal isi atau kaidah-kaidah dari materi-materi tersebut di atas, tapi cukup menguasai cara-cara mengajarnya dengan baik.
II. Teknik Mengajar Metode Thoriqoh
1.         Dalam pembelajaran praktek metode Thoriqoh, seorang guru atau tutor, hendaknya menulis kaidah-kaidah nahwu dan shorrof yang bersumber dari materi-materi tersebut di papan tulis sesuai kebutuhan dari materi yang akan diajarkan ketika itu.            
2.         Tutor menerangkan makna dan maksud kaidah-kaidah tersebut dengan jelas dan detil dengan menyebutkan sumber pengambilannya, kemudian dibaca bersama-sama secara takror
3.         Siswa / peserta membuka kitab Fathul Qorieb, kemudian tutor mengajarkan i’rob kata perkata beserta kaidahnya terhadap teks yang diajarkan ketika itu dengan menggunakan 3 (tiga) kata tersebut di atas.
                Untuk lebih jelasnya, silakan praktekkan sekarang juga !

من خصائص منهج "طريقـة" التكرار

Catatan :
Bila Ustadz dan Ustadzah berminat untuk menggunakan metode Thoriqoh – Manzilah atau MKKT sebagai referensi Nahwu dan Shorrof  yang diajarkan kepada anak didik dalam bentuk Diklat, minimal 4 -7 bulan, maka perlu mengkader beberapa guru atau sebagai kader tutor MKKT (2-3 hari) saja agar mengetahui teknik mengajarkannya. Dan kami 2 (dua) orang dari tim penyusun MKKT siap memberikan presentasi kepada  mereka, bila dibutuhkan. Hubungi kami di :  081999910077
atau Email: muhsinamir14@gmail.com. Terkait dengan metode ini, dapat Ustadz/ustadzah baca website kami: www.coretan-pena.weebly.com atau: teknikbacakitabcepat.blogspot.com. atau : https://alamirfoundations.wordpress.com/2014/09/06/149/





                                                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar